BATUBARA DALAM PEMANFAATANNYA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR INDUSTRI
Batubara
merupakan salah satu bahan bakar alternatif disamping minyak, gas bumi dan panas
bumi. Menurut terminologi masyarakat batubara dipergunakan untuk menyebut semua
sisa tumbuhan yang telah menjadi fosil bersifat padat, berwarna gelap dan dapat
dibakar, (Sukandarrumidi,2006). Secara kimia fisis batubara adalah suatu batuan
sedimen tersusun atas unsur karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen
(N), dan sulfur (S). Dalam proses pembentukannya, batubara diselipi batuan yang
mengandung mineral. Bersama dengan moisture, mineral
ini merupakan pengotor batu bara sehingga dalam pemanfaatannya, kandungan kedua
materi ini sangat berpengaruh. Menurut Muchjidin (2006), dari ketiga jenis
pemanfaatan batubara,yaitu sebagai pembuat kokas, bahan bakar, dan batu bara
konversi, pengotor ini harus diperhitungkan karena semakin tinggi kandungan
pengotor, maka semakin rendah kandungan karbon, sehingga semakin rendah pula
nilai panas batu bara tersebut.
Batu
bara indonesia berada pada perbatasan antara batu bara subbitumen dan batu bara
bitumen, tetapi hampir 59% adalah lignit. Menurut hasil eksplorasi yang
dinyatakan dalam sumberdaya hipotetik, tereka, terunjuk, dan terukur, sampai tahun
1999 akhir, sumberdaya batubara indonesia jumlahnya sekitar 38,8 miliar ton, dan
sampai tahun 2003 sekitar 57,85 miliar ton (Muchjidin,2006).
Penambangan
batubara ada dua cara,yaitu cara penambangan terbuka dan penambangan bawah
tanah. Di indonesia,cara penambangan terbuka banyak digunakan karena letak batubaranya
tidak terlalu dalam. Cara yang dipakai ialah truck
and shovel.
Disamping
dua perusahaan penambang batubara milik Pemerintah, penambang batubara di indonesia
dibagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama terdiri atas 10 perusahaan
PMA, generasi kedua 17 perusahaan,dan generasi ketiga 99 perusahaan.Selain
itu, ada 12 pemegang KP dan 12 KUD penambang batubara. Sampai akhir tahun
1999,telah ditambang sekitar 35,4 juta ton batubara dan pada tahun 2000
sebanyak 76,9 juta ton (Muchjidin,2006).
Pertambangan
batubara memberikan kontribusi bagi pembangunan antara lain menghasilkan devisa
ekspor dan pendapatan negara yang amat berarti dalam pembiayaan pembangunan serta
membuka lapangan kerja baru untuk mengurangi angka pengganguran ( Salim,2010). Selain
itu dampak dari pertambangan batubara meninggalkan sejumlah masalah sosial dan
lingkungan.
A.
Definisi
batubara
Istilah batubara merupakan hasil
terjemahan dari coal.Disebut batubara
mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang kayu (charcoal).Banyak sekali definisi mengenai batubara yang telah dikemukakan
dalam referensi,salah satunya berbunyi: ” batubara adalah suatu batuan sedimen
organik berasal dari penguraian sisa berbagai tumbuhan yang merupakan campuran
yang heterogen antara senyawa organik dan zat anorganik yang menyatu di bawah
beban strata yang menghimpitnya”.
Batubara berasal dari tumbuhan yang
mati,kemudian tertutup oleh lapisan batuan sedimen. Ketebalan timbunan itu lama
kelamaan menjadi berkurang karena adanya pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi. Contohnya di Australia,timbunan
tumbuhan mati setebal 100 meter,setelah 1,6 juta tahun berubah menjadi lapisan
batubara peringkat (rank) tinggi
setebal 1 meter.
Pada tahun 1913,dalam sebuah seminar di
Edinburgh, Skotlandia, dilontarkan satu pertanyaan yang berbunyi”Apakah batubara
itu ? ”Kini, setelah lebih dari sembilan puluh tahun ilmu perbatubaraan
berkembang,kita dapat menjawabnya setelah mempelajari beberapa sifat fisika dan
sifat kimianya. Jawabannya adalah: “ Batubara ialah batuan sedimen yang secara
kimia dan fisika adalah heterogen yang mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat
lain,yaitu senyawa anorganik pembentuk-ash
tersebar sebagai partikel zat mineral terpisah-pisah di seluruh senyawa batu
bara. Beberapa jenis batubara meleleh dan menjadi plastis apabila
dipanaskan,tetapi meninggalkan suatu residu yang disebut kokas. Batubara dapat
dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar
cair atau dihidrogenasikan untuk membuat metan. Gas sintesis atau bahan bakar
berupa gas dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi
sempurna dari batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap” (Elliot,1981).
Definisi
yang lengkap ini mencakup beberapa aspek batubara,yaitu:
v Batubara
termasuk batuan sedimen.
v Batubara
adalah senyawa yang heterogen.
v Batubara
terdiri atas unsur-unsur utama:karbon,hidrogen,dan oksigen serta unsur-unsur
tambahan:belerang(sulfur) dan nitrogen.
v Batubara
mengandung zat mineral,suatu senyawa organik
v Beberapa
jenis batubara tertentu dapat diubah
menjadi kokas metalurgi
v Beberapa
jenis batubara cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit uap di
PLTU.
v Beberapa
jenis batubara tertentu dapat diubah bentuknya menjadi zat cair dan gas.
B.
Proses
pembentukan batubara
Tanpa
memandang perbedaan antara batubara yang satu dengan yang lainnya, dapat
dikatakan bahwa semua batubara merupakan hasil suatu proses dasar yang sama.
Kebanyakan
batubara di dunia terbentuk beberapa juta tahun yang silam yang menurut para
ahli geologi disebut zaman batu bara (Coal Age). Ada dua periode Zaman batubara
tersebut. Yang pertama, zaman pra-Tertier, dimulai 345 juta tahun yang silam
(selama periode Karbon) dan berakhir pada 280 juta tahun yang silam. Zaman batubara
yang kedua, Era Eosen-Miosen, dimulai sekitar 100 juta tahun yang silam dan
berakhir 45 juta tahun yang silam.
Tahap Pertama: Pembentukan
gambut
Iklim bumi selama Zaman Batubara adalah
tropis dan berjenis-jenis tumbuhan tumbuh subur di daerah rawa membentuk suatu
hutan tropis. Setelah banyak tumbuhan yang mati dan menumpuk di atas tanah,
tumpukan itu semakin lama semakin tebal menyebabkan begian dasar dari rawa
turun secara perlahan-lahan dan material tetumbuhan tersebut diuraikan oleh
bakteri dan jamur. Tahap ini merupakan tahap awal dari rangkaian pembentukan
batubara (coalification) yang
ditandai oleh reaksi biokimia yang luas. Selama proses penguraian tersebut,
protein, kanji dan selulosa mengalami penguraian lebih cepat bila dibandingkan
dengan penguraian material berkayu (lignin) dan bagian tumbuhan yang berlilin
(kulit ari daun, dinding spora, dan tepung sari). Karena itulah, dalam batubara
yang muda masih terdapat ranting, daun, spora, biji, dan resin, sebagai sisa
tumbuhan.
Bagian-bagian tumbuhan itu terurai di bawah
kondisi aerob menjadi karbon dioksida, air, dan amoniak, serta dipengaruhi oleh
iklim. Proses ini disebut proses pembentukan humus (humification) dan sebagai hasilnya adalah gambut (merupakan
terjemahan dari peat, mungkin nama
gambut diambil dari nama Kecamatan Gambut di Kalimantan Selatan karena disana
banyak terdapat peat).
Tahap kedua : Pembentukan
lignit
Proses terbentuknya gambut berlangsung tanpa
menutupi endapan gambut tersebut. Di bawah kondisi yang asam, dengan
dibebaskannya H2O, CH₄,
dan sedikit CO2 , terbentuklah material dengan rumus C65H₄O30 atau ulmin yang pada keadaan kering akan mengandung karbon 61,7%,
hidrogen 0,3%, dan oksigen 38%.
Dengan
berubahnya topografi daerah di sekelilingnya, gambut menjadi terkubur di bawah
lapisan lanau (silt) dan pasir yang
diendapkan oleh sungai dan rawa. Semakin dalam terkubur, semakin bertambah
timbunan sedimen yang menghimpitnya sehingga tekanan pada lapisan gambut
bertambah serta suhu naik dengan jelas. Tahap ini merupakan tahap kedua dari proses
pembentukan batubara atau yang disebut tahap metamorfik. Penutupan rawa gambut
memberikan kesempatan pada bakteri untuk aktif dan penguraian dalam kondisi
basa menyebabkan dibebaskannya CO2, deoksigenasi dari ulmin, sehingga kandungan hidrogen dan
karbon bertambah. Tahap kedua dari proses pembentukan batubara ini adalah tahap
pembentukan lignit, yaitu batubara rank
rendah yang mempunyai rumus perkiraan C79H5,5O14,1.
Dalam keadaan kering, lignit mengandung karbon 80,4%, hidrogen 0,5%, dan
oksigen 19,1%.
Tahap ketiga : Pembentukan
batubara subbitumen
Tahap selanjutnya dari proses pembentukan
batubara ialah pengubahan batubara bitumen
rank rendah menjadi batubara bitumen rank
pertengahan dan rank tinggi. Selama
tahap ketiga, kandungan hidrogen akan tetap konstan dan oksigen turun. Tahap
ini merupakan tahap pembentukan batubara subbitumen (sub-bituminous coal).
Tahap keempat : Pembentukan
batubara bitumen
Dalam tahap keempat atau tahap pembentukan batubara
bitumen (bituminous coal), kandungan
hidrogen turun dengan menurunnya jumlah oksigen secara perlahan-lahan, tidak
secepat tahap-tahap sebelumnya. Produk sampingan dari tahap ketiga dan keempat
ini ialah CH₄, CO2,
dan mungkin H2O.
Tahap Kelima : Pembentukan
antrasit
Tahap kelima adalah antrasitisasi. Dalam
tahap ini, oksigen hampir konstan, sedangkan hidrogen turun lebih cepat
dibandingkan tahap-tahap sebelumnya.
Proses
pembentukan batubara terlihat merupakan serangkaian reaksi kimia. Kecepatan
reaksi kimia ini dapat diatur oleh suhu dan atau tekanan. Suatu diagram yang
menunjukkan proses dekomposisi (penguraian).






0 comments:
Posting Komentar